Close Menu
Liputan Digital
    What's Hot

    Khofifah: Pesantren punya peran strategis pembentukan karakter bangsa

    May 19, 2026

    Astindo dorong sinergi industri pariwisata Indonesia lewat ANTX 2026

    May 18, 2026

    Huawei tengah uji baterai berkapasitas besar mulai dari 7000 mAh 

    May 17, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Khofifah: Pesantren punya peran strategis pembentukan karakter bangsa
    • Astindo dorong sinergi industri pariwisata Indonesia lewat ANTX 2026
    • Huawei tengah uji baterai berkapasitas besar mulai dari 7000 mAh 
    • BPBD Semarang: 556 KK terdampak banjir Tugu dan Ngaliyan
    • BGN Nabire optimalkan pelayanan 3B di triwulan II 2026
    • Anggota DPRD apresiasi sikap Gubernur NTB tolak kereta gantung Rinjani
    • KAI Percepat Penataan Perlintasan Sebidang untuk Memperkuat Keselamatan
    • JPU ajukan kasasi atas vonis bebas delapan bankir pada kasus Sritex
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Liputan Digital
    • Berita
    • Kasus
    • Aset
    • Bisnis
    • Tips
    Liputan Digital
    Home»Berita»Permukiman kumuh sebagai gejala pembangunan
    Berita

    Permukiman kumuh sebagai gejala pembangunan

    adminBy adminApril 29, 2026Updated:April 29, 2026No Comments2 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Follow Us
    Google News Flipboard Threads
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Liputandigital.com – Permukiman kumuh sering kali dipandang sebagai simbol kegagalan pembangunan: lingkungan padat, tidak layak huni, minim sanitasi, dan rentan terhadap berbagai masalah sosial.

    Namun, pandangan tersebut kerap menyesatkan. Permukiman kumuh bukanlah sekadar masalah yang harus dihapus, melainkan gejala dari ketidakseimbangan struktural dalam pembangunan ekonomi dan perkotaan. Dengan kata lain, permukiman kumuh bertahan bukan karena diinginkan, tetapi karena diperlukan.

    Pendekatan kebijakan yang selama ini umum dilakukan adalah penggusuran, relokasi, dan pembangunan rumah susun di pinggiran kota yang terbukti tidak menyelesaikan masalah secara mendasar. Bahkan, dalam banyak kasus, kebijakan tersebut justru memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain.

    Indonesia tidak asing dengan pola ini. Berbagai program penataan kawasan kumuh di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan sering kali menghadapi dilema antara penertiban dan keberlanjutan kehidupan ekonomi masyarakat.

    Data menunjukkan bahwa masalah ini tidak kecil. Berdasarkan data Kementerian PUPR, luas kawasan kumuh di Indonesia pada beberapa tahun terakhir masih mencapai lebih dari 30.000 hektare, tersebar di ratusan kota/kabupaten. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sekitar 8–10 persen penduduk perkotaan masih tinggal di kawasan dengan kondisi hunian tidak layak.

    Angka ini mencerminkan jutaan orang yang bergantung pada ruang hidup yang secara formal dianggap “tidak memenuhi standar”.

    Mengapa kondisi ini terus terjadi? Jawabannya terletak pada tiga faktor utama yaitu keterjangkauan perumahan, kedekatan dengan pekerjaan, dan akses terhadap pendidikan. Di kota-kota besar Indonesia, harga rumah formal meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pendapatan masyarakat.

    Di Jakarta, misalnya, harga rumah di kawasan perkotaan dapat mencapai lebih dari 10–15 kali pendapatan tahunan rata-rata rumah tangga. Ini jauh di atas batas keterjangkauan ideal yang umumnya berada di kisaran 3–5 kali pendapatan tahunan.

    Akibatnya, kelompok berpendapatan rendah tidak memiliki banyak pilihan. Mereka harus memilih antara tinggal jauh di pinggiran kota dengan biaya transportasi tinggi atau tinggal di kawasan informal yang dekat dengan pusat aktivitas ekonomi.

    Banyak yang memilih opsi kedua, karena secara ekonomi lebih rasional. Tinggal di permukiman kumuh memungkinkan mereka menghemat biaya transportasi dan mempertahankan akses terhadap pekerjaan, meskipun harus mengorbankan kualitas lingkungan hidup.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa permukiman kumuh sebenarnya memiliki fungsi ekonomi. Ia menjadi “pintu masuk” bagi migran dari desa ke kota.

    Setiap tahun, urbanisasi di Indonesia terus meningkat. Persentase penduduk perkotaan telah melampaui 57 persen dan diperkirakan akan mencapai lebih dari 65 persen pada 2035. Migrasi ini didorong oleh harapan akan pekerjaan yang lebih baik dan akses pendidikan yang lebih luas bagi generasi berikutnya.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    admin
    • Website

    Related Posts

    Kemensos dampingi keluarga korban tabrakan KA Argo Bromo-KRL di Bekasi

    April 29, 2026

    Kementrans siapkan Ekspedisi Patriot bagi 1.400 peserta tahun ini

    April 29, 2026

    Presiden Prabowo dorong hilirisasi untuk kuasai sumber daya nasional

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    10 Trends From Year 2020 That Predict Fashion Popularity

    April 20, 2021

    Review: Relax, Recline And Dine At Hilton Rijeka Costabella Beach

    April 15, 2021

    Qatar Airways Helps Bring Tens of Thousands of Seafarers

    April 15, 2021

    Subscribe to Updates

    Get the latest sports news from SportsSite about soccer, football and tennis.

    Advertisement
    Demo
    Demo
    Don't Miss

    Khofifah: Pesantren punya peran strategis pembentukan karakter bangsa

    adminMay 19, 2026

    Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa mengatakan pondok pesantren…

    Astindo dorong sinergi industri pariwisata Indonesia lewat ANTX 2026

    May 18, 2026

    Huawei tengah uji baterai berkapasitas besar mulai dari 7000 mAh 

    May 17, 2026

    BPBD Semarang: 556 KK terdampak banjir Tugu dan Ngaliyan

    May 16, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.