Close Menu
Liputan Digital
    What's Hot

    Khofifah: Pesantren punya peran strategis pembentukan karakter bangsa

    May 19, 2026

    Astindo dorong sinergi industri pariwisata Indonesia lewat ANTX 2026

    May 18, 2026

    Huawei tengah uji baterai berkapasitas besar mulai dari 7000 mAh 

    May 17, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Khofifah: Pesantren punya peran strategis pembentukan karakter bangsa
    • Astindo dorong sinergi industri pariwisata Indonesia lewat ANTX 2026
    • Huawei tengah uji baterai berkapasitas besar mulai dari 7000 mAh 
    • BPBD Semarang: 556 KK terdampak banjir Tugu dan Ngaliyan
    • BGN Nabire optimalkan pelayanan 3B di triwulan II 2026
    • Anggota DPRD apresiasi sikap Gubernur NTB tolak kereta gantung Rinjani
    • KAI Percepat Penataan Perlintasan Sebidang untuk Memperkuat Keselamatan
    • JPU ajukan kasasi atas vonis bebas delapan bankir pada kasus Sritex
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Liputan Digital
    • Berita
    • Kasus
    • Aset
    • Bisnis
    • Tips
    Liputan Digital
    Home»Berita»Ketika sejarah memilih tidak campur tangan di Horsens
    Berita

    Ketika sejarah memilih tidak campur tangan di Horsens

    adminBy adminApril 29, 2026Updated:April 29, 2026No Comments3 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Follow Us
    Google News Flipboard Threads
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Liputandigital.com – Ada sesuatu yang terasa tidak sopan dari cara Indonesia tersingkir dalam perhelatan Piala Thomas 2026: terlalu cepat dan tanpa pamit, seolah-olah sejarah panjang yang kita banggakan bisa diabaikan begitu saja tanpa banyak basa-basi.

    Indonesia harus menerima kenyataan pahit tersingkir di fase grup setelah takluk 1-4 dari Prancis pada laga penentuan Grup D di Forum Horsens, Denmark, Rabu WIB.

    Kekalahan itu bukan sekadar kekalahan biasa, tapi lebih menyerupai koreksi redaksional terhadap naskah panjang yang selama ini ditulis dengan terlalu percaya diri tentang nostalgia kedigdayaan Indonesia di cabang olahraga bulu tangkis..

    Prancis, dalam hal ini, memainkan perannya dengan sangat baik, sebagai pengingat bahwa dunia tidak pernah menandatangani kontrak apa pun dengan nostalgia kita.

    Selama ini, kita memperlakukan bulu tangkis seperti hak waris. Bukan dalam arti hukum, tentu saja, tetapi dalam arti psikologis yang lebih halus; kita tumbuh dengan keyakinan bahwa ada bidang-bidang tertentu (bulu tangkis salah satunya) yang secara otomatis akan tetap menjadi milik kita, seperti resep keluarga yang tidak pernah benar-benar ditulis, tapi selalu dianggap bisa direplikasi.

    Empat belas gelar Piala Thomas menjadi semacam bukti historis bahwa asumsi itu masuk akal. Dari 1958 hingga 2024, Indonesia selalu berhasil menembus fase gugur. Bahkan kegagalan terburuk kita sebelumnya —perempat final 2012— masih terasa seperti kegagalan yang sopan, yang tahu diri, yang tidak melanggar batas-batas kepantasan sejarah.

    Horsens menghapus kesopanan itu.

    Tiba-tiba, kita tidak hanya kalah, tetapi kalah terlalu dini. Di fase grup, sebuah wilayah yang selama ini lebih sering kita anggap sebagai formalitas administratif ketimbang medan pertempuran yang serius.

    Lebih dari itu, kita kalah dari tim yang tidak membawa beban sejarah. Prancis datang tanpa nostalgia, tanpa kewajiban untuk menghormati masa lalu kita, tanpa perasaan bersalah ketika mengalahkan negara dengan 14 gelar.

    Mereka, dalam arti tertentu, bermain bulu tangkis seperti seharusnya, yaitu sebagai olahraga, bukan sebagai ritual penghormatan.

    Di titik ini, mungkin kita perlu mengakui sesuatu yang agak tidak nyaman bahwa selama ini kita tidak hanya mencintai bulu tangkis, tetapi juga mencintai gagasan tentang diri kita sendiri di dalamnya. Kita tidak sekadar ingin menang; kita ingin tetap menjadi negara yang “memang seharusnya menang.”

    Perbedaannya tipis, tapi menentukan. Sebab ketika kemenangan mulai jarang datang, yang terganggu bukan hanya papan skor, melainkan juga narasi. Kita tidak hanya kehilangan pertandingan; kita kehilangan alur cerita yang selama ini kita anggap stabil.

    Sementara itu, di luar sana, negara-negara lain tampaknya tidak terlalu tertarik pada cerita kita. Mereka sibuk menulis cerita mereka sendiri, dengan sistem pembinaan yang terus diperbarui, dengan pendekatan yang mungkin terasa kurang romantis, tetapi jauh lebih efektif. (ant)

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    admin
    • Website

    Related Posts

    Kemensos dampingi keluarga korban tabrakan KA Argo Bromo-KRL di Bekasi

    April 29, 2026

    Kementrans siapkan Ekspedisi Patriot bagi 1.400 peserta tahun ini

    April 29, 2026

    Presiden Prabowo dorong hilirisasi untuk kuasai sumber daya nasional

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    10 Trends From Year 2020 That Predict Fashion Popularity

    April 20, 2021

    Review: Relax, Recline And Dine At Hilton Rijeka Costabella Beach

    April 15, 2021

    Qatar Airways Helps Bring Tens of Thousands of Seafarers

    April 15, 2021

    Subscribe to Updates

    Get the latest sports news from SportsSite about soccer, football and tennis.

    Advertisement
    Demo
    Demo
    Don't Miss

    Khofifah: Pesantren punya peran strategis pembentukan karakter bangsa

    adminMay 19, 2026

    Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa mengatakan pondok pesantren…

    Astindo dorong sinergi industri pariwisata Indonesia lewat ANTX 2026

    May 18, 2026

    Huawei tengah uji baterai berkapasitas besar mulai dari 7000 mAh 

    May 17, 2026

    BPBD Semarang: 556 KK terdampak banjir Tugu dan Ngaliyan

    May 16, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.