{"id":9483,"date":"2026-04-28T13:19:26","date_gmt":"2026-04-28T13:19:26","guid":{"rendered":"https:\/\/liputandigital.com\/?p=9483"},"modified":"2026-04-28T13:21:35","modified_gmt":"2026-04-28T13:21:35","slug":"program-makan-bergizi-gratis-diwarnai-pelanggaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/2026\/04\/28\/program-makan-bergizi-gratis-diwarnai-pelanggaran\/","title":{"rendered":"Program Makan Bergizi Gratis Diwarnai Pelanggaran"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Liputandigital.com <\/strong>&#8211; Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappissus), Aris Marsudiyanto, menegaskan bahwa praktik pengurangan kualitas maupun porsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dapat dibenarkan. <\/p>\n\n\n\n<p>Aris menyampaikan bahwa sekitar 1.700 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah disuspensi sementara akibat temuan pelanggaran di lapangan. Pernyataan tersebut disampaikan Aris saat menghadiri APPMBGI National Summit 2026 di Jakarta Timur pada Sabtu, 25 April 2026.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam forum tersebut, Aris mengingatkan para pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) agar tidak hanya mengejar keuntungan. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya minta kepada bapak-bapak ibu-ibu yang di sini ya mohon sebagai pengusaha ya jangan hanya berpikir profit, profit, profit, profit dan profit,\u201d kata Aris. <\/p>\n\n\n\n<p>Aris menegaskan bahwa indeks pembiayaan MBG sudah dihitung secara matematis dan disesuaikan dengan kondisi riil sehingga tidak ada alasan untuk mengurangi mutu makanan. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJadi tingkat indeks Makan Bergizi Gratis yang sekarang ini ada sudah kita hitung ya secara matematik riil dan implementasi di lapangan dengan harga-harga yang ada,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Aris menambahkan bahwa para pengusaha memiliki tanggung jawab besar terhadap pemenuhan gizi anak-anak penerima manfaat. Ia meminta anggota asosiasi untuk meneruskan komitmen tersebut kepada seluruh pengelola SPPG di berbagai daerah. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMohon yang ada di sini sampaikan ke seluruh teman-temannya ya para pengusaha SPPG yang sekarang ini ada 22.000-an ya untuk sama-sama kita mempunyai tanggung jawab memperbaiki bangsa ini dengan sebaik-baiknya,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam proses pengawasan, Bappissus menemukan praktik manipulasi yang dilakukan sejumlah pengelola, termasuk pengurangan porsi bahan pangan. Aris menyebut temuan pembagian ayam yang dilakukan secara tidak wajar. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya juga melihat dagingnya dipotong ya toh kalau satu ayam mungkin jadi 12 ini jadi 16 jadi 20,\u201d katanya. Ia juga menyoroti penyajian telur yang tidak sesuai frekuensi yang ditetapkan pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, Aris mengingatkan bahwa kualitas air merupakan faktor penting dalam penyajian makanan. Ia menilai risiko keracunan tidak hanya berasal dari bahan pangan, tetapi juga dari air yang terkontaminasi. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMakanannya baik tapi kalau airnya buruk ya ini akan menimbulkan keracunan. Nah air tidak semata-mata dari bakteri tapi dikasih ada unsur-unsur kimia lain unsur-unsur logam lain,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>SPPG yang telah disuspensi diwajibkan melakukan evaluasi dan mengajukan proposal perbaikan sebelum diizinkan kembali beroperasi. Langkah tersebut diambil untuk memastikan bahwa standar dalam program MBG tetap terjaga dan tidak terjadi kembali penyimpangan yang merugikan penerima manfaat.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Liputandigital.com &#8211; Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappissus), Aris Marsudiyanto, menegaskan bahwa praktik pengurangan kualitas maupun porsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dapat dibenarkan. Aris menyampaikan bahwa sekitar 1.700 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah disuspensi sementara akibat temuan pelanggaran di lapangan. Pernyataan tersebut disampaikan Aris saat menghadiri APPMBGI National Summit<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":9484,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,1],"tags":[50,52,51],"class_list":{"0":"post-9483","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita","8":"category-uncategorized","9":"tag-mbg","10":"tag-mbg-bermasalah","11":"tag-sppg"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9483","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9483"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9483\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9485,"href":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9483\/revisions\/9485"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9484"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9483"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9483"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputandigital.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9483"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}