BERBAGI

Jakarta – Hari Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 hanya tinggal menghitung hari lagi. Dan waktu kampanye yang hanya tinggal 9 hari lagi, Andre Rosiade selaku juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, mengungkapkan, jika timnya akan fokus untuk melakukan kampanye akbar serta kampanye door to door untuk bisa memikat swing voters. Hal itu di sampaikan oleh Andre Rosiade pada (4/4/2019).

“Dua minggu ini tugas kita hanya dua, pertama kampanye akbar, kedua door to door menyapa warga. Strateginya dua itu saja,” ungkap dia.

Andre menjelaskan, jika timnya akan memastikan lewat dua cara tersebut, agar pesan-pesan yang ingin di ungkapkan, dapat diterima oleh semua masyarakat khususnya yang masih belum memberikan pilihannya. Dia menilai, bahwa akan terdapat sejumlah pesan penting yang akan diungkapkan, mencakup juga terkait dengan pertumbuhan ekonomi sampai lapangan pekerjaan.

“Kita pastikan dengan dua itu, pesan dengan soal pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, harga bahan pokok sampai ke swing voters sehingga mereka menentukan pilihan ke Pak Prabowo,” jelasnya.

Dia mengatakan, bahwa dia tidak akan mempersoalkan terkait hasil survei-survei di Pilpres 2019 ini yang tersebar luas. Sebab, di dalam beberapa hasil survei tersebut, peringkat Prabowo-Sandi masih jauh dari belakang pasangan calon presiden dan wakil presiden kubu petahana.

Jelang Pemilu 2019, Tim Prabowo-Sandi Gencar Kampanye Terbuka Dan Door To Door
Jelang Pemilu 2019, Tim Prabowo-Sandi Gencar Kampanye Terbuka Dan Door To Door (liputandigital.com)

“Ini kan survei-survei kan mereka patut diduga bagian dari timses Pak Jokowi begitu kan. Ya mereka mereka patut diduga merupakan bagian timses Pak Jokowi yang bertugas merilis untuk menggiring opini,” tuturnya.

“Nah nanti, pas pemilu, lembaga-lembaga survei yang bilang Pak Jokowi unggul di atas 20 persen tentu akan mengalami tuntutan dari rakyat,” sambungnya.

Dia menyatakan, bila hasil pemilu nantinya berada jauh di luar margin of error survei, lalu bukan tidak mungkin jika nantinya masyarakat akan bisa menuntut lembaga-lembaga survei itu. Karena, Andre menilai, jika hal itu dapat di kelompokkan menjadi penyelewengan di dalam melakukan demokrasi.

“Jangan anda bilang, ‘oh kan kami bukan Tuhan’. Anda bilang anda punya metodologi, anda bilang anda punya margin of error, jadi kalau meleset dari margin of error anda nanti, bahwa kalau Pak Prabowo menang, berarti anda mengkhianati demokrasi. Rakyat Indonesia pasti akan bikin perhitungan dengan anda,” tutup Andre.