BERBAGI

Jakarta – Silahkan kalian menghina kami memperjuangkan Prabowo dengan seribu fitnah yang kalian lancarkan. Silahkan kalian memutar balikkan fakta dengan media-media kalian, dengan akun-akun palsu social media kalian. Kami tidak akan bergeming. Karena bagi kami, ini tidak hanya pilpres melainkan bagian dari jihad membela menyelamatkan negara dari kehancuran.

Tahukah kalian, ulama adalah panduan kami. Dan sekarang, situasi yang sudah genting ini memaksa ulama-ulama kami harus bangkit dari tempat sujudnya dan turun langsung turut menyelamatkan bangsa ini.

Apa tega kami diam saja?

Beliau-beliau yang harusnya kita jaga agar tidak berkeringat untuk masalah duniawi, kini harus susah payah turun menggalang kekuatan untuk menghancurkan arogansi dan kemungkaran yang menguasai negeri ini. Lihatlah, bagaimana ulama-ulama kami malah dipersekusi, dipenjara dan jika mendekat di lempar gas air mata padahal beliau-beliau datang baik-baik.

Apa tega kami berdiam diri?

Semua ini demi anak cucu kami, demi keberlangsungan dan keselamatan negeri ini. Kami tidak sedang membela Prabowo, namun sedang membela nasib anak cucu kami yang dirampas haknya oleh mereka yang datang untuk menumpang.

Apa tega kami berdiam diri?

Lihatlah, semua orang meradang harga mencekik tanpa belas kasih. Tidak tersisa subsidi sedikitpun buat rakyat. Apa yang tidak naik di negeri ini? Semua serba susah sementara perut lapar tidak bisa ditahan lagi.

Apa tega kami berdiam diri?

Lihatlah, emak-emak turun ke jalan. Mereka teriak-teriak di social media dan jalanan, namun pemerintah cuek bebek malah asyik menciptakan framing bahwa emak-emak itu massa bayaran.

Apa tega kami berdiam diri?

Lihatlah, para aktifis di persekusi dan dipenjarakan. Seorang pembunuh divonish lebih rendah daripada cuitan seorang aktifies. Dan seorang ulama sepuh di kuyo-kuyo di PHP akan segera dibebaskan tanpa syarat hanya demi menambal elektabilitas yang anjlok. Sementara sang koruptor benar-benar mendapat kebebasan padahal mengakunya anti korupsi.

Apa tega kami berdiam diri?

Lihatlah, para petani membuang hasil panennya karena harga hancur dihancurkan oleh barang impor. Petani sudah letih berbulan-bulan berharap hasil dengan mencurahkan perhatian sekuat tenaga dan biaya ternyata harus merelakan panennya karena ketidakpedulian pemerintah.

KAMI TIDAK MEMBELA PRABOWO TAPI MEMBELA NASIB ANAK CUCU KAMI
KAMI TIDAK MEMBELA PRABOWO TAPI MEMBELA NASIB ANAK CUCU KAMI (Liputandigital.com)

Apa tega kami berdiam diri?

Silahkan kalian puas-puasin membuat rusuh dimana-mana. Silahkan kalian puas-puasin menyalahgunakan kekuasaan. Silahkan kalian persekusi semua orang yang tidak sependapat dengan kalian. Silahkan kalian koar-koar dibantu media cukong membentuk opini. Silahkan kalian, memamerkan arogansi di televisi.

Namun kalian perlu sadari. Bahwa kami tidak sedang membela Prabowo Sandi. Bahwa kami tidak sedang mencari kekuasaan. Bahwa kami tidak sedang bekerja sebagai buzzer sebagaimana kalian lakukan.

Kami sedang berjihad membela nasib anak cucu kami. Sebagaimana para leluhur dan pejuang kami sebelumnya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Dan kami yakin, Allah akan mendengarkan doa-doa ulama kami, kyai kami, para habaib kami. Ingatlah, bahkan firaun sekalipun pada akhirnya mengalami kekalahan!