BERBAGI

Madiun – Mantan wakil gubernur DKI Jakarta yang saat ini sebagai calon wakil presiden no urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno mengunjungi lokasi pembuatan brem yang ada di Desa Bancong, Kecamatan Wonosari, Madiun, pada 6/2/2019 malam lalu. Kedatangan Sandi di manfaatkan oleh pembuat brem untuk mengeluhkan dan juga menceritakan terkait dengan keadaan mereka yang saat ini tidak sebaik dulu.

Salah satu pembuat brem yang bernama Haji Ferkodin mengeluhkan, murahnya harga jual brem pada saat ini.

“Harga jual sangat murah Pak, per boksnya Rp 15 ribu,” ungkap Haji Ferkodin.

Bukan hanya harganya yang rendah, mereka pun mengeluhkan, bahwa jarangnya pembeli. Ferkodin menceritakan, tempat pembuatan makanan khas dari Madiun tersebut, dulunya dapat mempekerjakan sebanyak 40 karyawan. Sedangkan, saat ini hanya tinggal bertiga.

“Sekarang per hari paling banyak laku 100 boks loh Pak, jadi saya liburkan sebagian karyawan,” tutur Ferkodin.

Menjawab curhatan tersebut, mantan wakil gubernur DKI Jakarta berkomitmen untuk mengikutsertakan One Kecamatan One Center for Enterpreneurship (OK OCE) untuk dapat dapat membantu merangsang kembali pasar brem menjadi buah tangan khas ari Madiun.

Makanan Ini, Buat Sandiaga Uno Kenang Masa Kecil Ketika Kunjungi Madiun
Makanan Ini, Buat Sandiaga Uno Kenang Masa Kecil Ketika Kunjungi Madiun (liputandigital.com)

“Kita harus berdayakan ikon daerah Madiun ini. Kita akan bantu dengan OK OCE untuk melakukan pendampingan, pelatihan, permodalan juga pemasaran. Saya berharap industri makanan ini kembali tumbuh,” kata Sandi.

Ketika mencicipi brem, calon wakil presiden no urut 02 ini mengenang masa kecilnya yang kerap mengkonsumsi makanan itu. Setelah itu, dia menceritakan, rasa yang tidak dapat di lupakan ketika brem pertama kali masuk ke mulutnya.

“Ini nostalgia, saya senang menyantap brem yang kalau dimakan terasa dingin dan punya rasa khas dengan Cap Seruling. Dan sekarang bisa datang ke pabriknya, melihat langsung pengolahannya. Ternyata produksinya masih tradisional dan menggunakan bahan baku lokal ketan yang dikukus menjadi tape, lalu diberi ragi,” tutup Sandi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here