BERBAGI

Jakarta – Pada acara apel siaga pengawas Pemilu 2019 di Palembang , Sumatera Selatan, pada Senin (21/01/19) Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengimbau untuk tidak memilih pemimpin yang berengsek. Dan mengenai hal tersebut Wiranto pun dimintai penjelasannya.

Menjawab hal yang diungkapkan oleh Wiranto tersebut, membuat Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean mengkomentari ungkapan Wiranto yang berkaitan dengan Pemilu Presiden dan wakil presiden (Pilpres) tahun 2019 mendatang. Dan nantinya Wiranto dipercaya bahwa dirinya mempunyai makna yang mendalam saat menyatakan hal tersebut.

Saat diwawancarai Ferdinand Hutahaean mengatakan “Nah kita pertanyakan Wiranto, yang dimaksud pemimpin berengsek siapa?” Dikutip pada Selasa (22/01/19). Sebab, teruntuk Kubu Prabowo-Sando, pemimpin berengsek itu ialah pemimpin yang suka ingkar janji, suka berbohong, tidak menepati janji, terlalu banyak pencitraan. “Kemudian, membuat ekonomi rusak, membuat situasi bangsa kacau, ini yang menurut kami pemimpin berengsek,” tegas Politikus Partai Demokrat ini.

Dan oleh karena itu, Ferdinand mempertanyakan mengenai maksud Wiranto mengenai pemimppin yang berengsek itu. “Kalau seperti yang saya nyatakan tadi ciri-cirinya pemimpin berengsek ya tentu kita akan tahu akan pilih siapa pada pilpres nanti,” tandasnya.

Sebagai salah satu contohnya pada pemerintahan saat ini yang Ferdinand duga-duga mengenainrencana pembebasan awalnya agar nantinya pemilih yang beragama Islam nantinya akan memilih Kubu Petahana pada Pilpres nanti. Dikarenakan itu juga yang menjadi alasan dibesar-besarkannya adalah ‘kemanusiaan’. Akan tetapi kubu petahan beserta timnya sadar jikalau hal tersebut malah dinilai tidak positif, kemudian dilakukan pembatalan.

Ferdinand Balas Kritikan Pedas Buat Wiranto: Siapa Yang Sebenarnya Lebih Berengsek?
Ferdinand Balas Kritikan Pedas Buat Wiranto: Siapa Yang Sebenarnya Lebih Berengsek?

“Mungkin Jokowi salah kalkulasi. Dia berharap [umat] Islam mendukung dia, ternyata hasilnya sebaliknya,” ucap Ferdinand kepada salah satu reporterdikutip pada Selasa (22/01/19).

Dan hal tersebut dinilai Ferdinand, sudah sangat jelas tak etis.

“Jokowi mempermainkan rasa kemanusiaan seorang ustaz Abu Bakar Ba’asyir hanya karena masalah elektoral; elektabilitas,” katanya. “Kecuali kalau Jokowi tetap bebaskan Ba’asyir dengan alasan kemanusiaan. Ya mungkin dia malah dapat poin.”

Hal tersebut direspon yang sama oleh Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin bahwa kebijakan yang diambil oleh paslon nomor urut 01 itu memang masih ada kaitannya dengan Pilpres 2019 mendatang.

“Selama ini, kan, Jokowi dikesankan anti-Islam dan ini masih melekat,” ucap Ujang.

“Tentu pada tahun politik kebijakan presiden akan berdampak politis.”sambungnya.

Menurut penilaian Ujang, respons negatif datang dikarenakan paslon nomor urut 01 selalu dianggap sebagai kepala negara, sehingga membiarkan mantan teroris plus anti-NKRI bebas, ditambah melanggar hukum pula sebab pembebasan Ba’asyir melanggar prosedur. Hal tersebut lah yang dinilai Ujang mendasari Wiranto ‘menganulir’ kebijakan paslon nomor urut 01 tersebut.

Jadi siapakah yang disini sebagai pemimpin yang berengsek? Berdasarkan penilaian yang dikatakan oleh Ferdinand memang sangat mengacu pada fakta-fakta yang ada, bahwa selama ini justru pemerintahan saat inilah yang dianggap sebagai yang lebih berengsek.