BERBAGI

Semarang – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mendadak mendatangi rumah emak-emak yang memasang baliho dengan ukuran besar di depan rumahnya. emak-emak tersebut bernama Habibah, rumah habibah berlokasi di Jl. Dr.Soetomo no.53, Kota Semarang, pada 21/12/2018.

Wakil ketua DPR itu tiba dirumah Habibah pada pukul 11.00 WIB dan juga terlihat langsung masuk ke rumah itu. Obrolan antara Fadli dengan Habibah dan juga suaminya, yang bernama Aminullah berlangsung secara tertutup.

Setelah pertemuan tersebut, Fadli menungkapkan bahwa dirinya sudah lama mengenal kedua warga semarang tersebut sejak 1998 lalu. kedatangannya itu untuk melihat lebih dekat persoalan yang di hadapi oleh Habibah.

Fadli menilai, sikap habibah memasang baliho tersebut dan juga mengkampanyekan paslon no urut 02 di depan rumah merupakan bentuk kebebasan berdemokrasi.

“Ini kan baru ramainya berita itu. Kita baru saksikan bagaimana Bu Habibah memasang baliho besar Prabowo-Sandi di rumahnya dan viral,” ujarnya.

Ia menyayangkan adanya dugaan diskriminasi dengan pencopotan baliho yang sempat terjadi. berdasarkan pengakuan dari Habibah, pencopotan baliho tersebut di paksa oleh Satpol PP.

“Ini bagian demokrasi. Boleh beda sikap (politik) dan pendapat. Tapi tidak boleh diskriminasi. Karena latar belakang pemasangan baliho karena ada penurunan atau pencopotan spanduk sebelumnya. Itu di pekarangan sendiri, di pagar sendiri, ” Kata Fadli.

Kejadian tersebut menurutnya merupakan tindak pidana. Karena tidak ada aturan yang melarang warga untuk memasang baliho di tempat tinggal mereka masing-masing.

“Maka semangat Bu Habibah ini malah menjadi inspirasi bagi kami pendukung Pak Prabowo-Sandi bisa memasang sendiri di rumah masing-masing, di dalam pagar, di gang depan rumah, di kampung,” tuturnya.

Fadli Zon datangi Emak-Emak Yang Memasang Baliho Besar Di Depan Rumahnya
Fadli Zon datangi Emak-Emak Yang Memasang Baliho Besar Di Depan Rumahnya

Habibah mengaku kejadian pencopotan tersebut terjadi pada 2014. Pada saat itu baliho dipasang di pagar, kemudian diangkut Satpol PP. Karena alasan tersebut Habibak kembali memasang baliho tetapi dengan rangka besi permanen di balik pagar dengan ukuran 4×4 meter.

“Saya jengkel, kalau saya pasang baliho dicekrek (dicopot). Makanya ini saya pasang permanen dengan besi penyangga. Saya juga biayai sendiri baliho ini,” pungkasnya.