BERBAGI

Ketika menyaksikan sebuah pidato Prabowo, entah kenapa tiba-tiba ada sedikit perasaan haru berkecamuk ketika Prabowo kembali menegaskan komitmennya untuk mampu menjaga, bahkan mengembalikan aset negara yang telah diobral oleh rezim kepada Asing Aseng ketika dirinya mendapat amanat dari rakyat.

Prabowo, sebagaimana anak bangsa lainnya yang peduli terhadap keadaan negara ini miris melihat situasi ekonomi dan kedaulatan bangsa yang terjadi pada rezim saat ini yang dianggapnya sangat merugikan dan membahayakan kedaulatan negara.

Bagaimana rezim berhutang untuk membangun Tol, kemudian Tol dijual kembali ke Asing/Swasta. Lalu siapa yang menikmati Tol tersebut? Ingat, rakyat harus membayar dan Tol tersebut tidak gratis! Dan bagaimana hal tersebut dianggap sebuah prestasi pembangunan?

Sementara subsidi dicabut, harga listrik, Gas, BBM dan harga pokok lainnya terus melambung tinggi. Masyarakat terus tercekik oleh biaya hidup sementara pekerjaan susah untuk didapatkan. Dimana peran pemerintah terhadap kehidupan rakyat kecil?

Tenaga kerja Asing berjuta-juta membanjiri negeri ini seperti banjirnya utang negara yang kini sehari menyentuh angka 1 Triliyun. Ya, perhari negara ini hutang 1 triliyun! Dengan apa kita membayarnya? Berapa bunganya? Pernahkah berpikir bahwa anak cucu kita kelak terinjak lehernya karena harus membayar

Prabowo menyinggung dijualnya saham Pertamina kepada asing merupakan kegagalan pemerintah dalam menyelamatkan aset penting negara. Oleh sebab itu, ia mengaku bila diberi amanat oleh rakyat untuk memimpin negeri ini, ia siap untuk bertaruh nyawa mengembalikan aset tersebut kepangkuan ibu pertiwi.

“Dengan itikad untuk melakukan perbaikan mau tidak mau kita harus ubah melalui kekuasan politik dan oleh karena itu saya dengan jajaran Gerindra kami terus berjuang minta mandat rakyat untuk kami bisa mengembalikan kekayaan aset negara dan menjaga kelangsungan hidup bangsa Indonesia melalui pengamanan aset,” ujar Prabowo.

“Kita harus melakukan perubahan. Saya siap menjadi alat perubahan. Saya siap menjadi alat umat dan rakyat Indonesia tapi kalau saya tidak dibutuhkan dan ada orang lain yang lebih baik saya siap mendukung kepentingan umat dan rakyat indonesia,” tutur Prabowo.

“Itu komitmen saya bahwa dengan komitmen saya dan Gerindra, kita akan berjuang untuk kepentingan bangsa, rakyat dan umat dan kedaulatan. Kita ingin Indonesia berdiri di atas kaki sendiri, tidak menjadi antek aseng dan asing,” tegas Prabowo.

KOMITMEN PRABOWO: MENGEMBALIKAN ASET NEGARA YANG DI OBRAL REZIM

Sebenarnya jika kita membaca buku-buku pandangan Prabowo seperti “Paradox Indonesia”, “Kembalikan Indonesia” ataupun “Membangun Kembali Indonesia” maka kita akan paham arah perjuangan prabowo.

Prabowo sudah bicara semua ini sejak bertahun-tahun yang lalu, namun media sepakat membungkam dan membully Prabowo dan antek-antek Asing Aseng serempak seirama membully Prabowo. Namun apa yang terjadi sekarang? Maka wajar saja jika Prabowo menegaskan para elit jahat juga turut bertanggungjawab atas kerusakan yang ada di negeri ini.

Prabowo seperti kompilasi terbaik dari sisi terbaik sosok Sukarno dan Suharto, khususnya berkaitan dengan pembelaan atas bangsanya dan pembangunan serta kedaulatan untuk negeri ini. Beruntung negeri ini memiliki Prabowo yang tidak lelah mengajarkan anak bangsa, bagaimana mencintai negeri ini.

Prabowo berpesan “Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih”. Berkaryalah tanpa harus publikasi dan jangan berharap sanjungan ataupun pujian. Seperti sedekah, usahakan tangan kanan memberi namun tangan kiri tidak tahu.

Kini ibu pertiwi memanggilmu. Berjuanglah untuk bangsamu. Perjuangan butuh pengorbanan, pengabdian terhadap negeri adalah bentuk pengabdian terhadap Tuhan. Ini bentuk pengabdian jalan seorang pendekar. Tauhid seorang pendekar!

Teruslah berjuang, Pak Prabowo!
Kami berhutang kepadamu. Jangan pernah lelah mengajari kami mencintai negeri ini.