BERBAGI

Saat ini perang konten antara figur Sandiaga Uno dan Jokowi semakin seru. Bagaimana Jokowi memberikan kejutan dengan membuat video untuk menyambut asean game 2018 Jakarta Palembang. Kejutan ini berhasil menciptakan viral dan terbentuknya trend bahkan berdasarkan hasil survey disimpulkan bahwa jokowi dianggap lebih mewakili kalangan pemilih milenial.

Namun kejutan ini ternyata tidak terlalu lama gaungnya karena ramai berbagai kritikan terhadap video tersebut yang dianggap tidak pas dan mengandung unsur kampanye bermuatan kebohongan.

Kritikan lain menekankan bahwa shoot “cincin” dan “anak kecil gendut” dianggap kurang etis karena seakan-akan sedang meledek sosok prabowo yang notabene duda dan beberapa waktu lalu paska pemeriksaan kesehatan persyaratan pencapresan disarankan diet agar turun 5kg.

Kritikan lain mengatakan, jokowi dianggap tega mentelantarkan korban bencana gempa NTB dengan tidak disegerakan ditetapkannya sebagai Bencana Nasional dengan alasan tidak memiliki dana dan takut kalau turis pada pergi keluar dari indonesia. Sementara itu, berdasarkan pemberitaan media biaya pembuatan video tersebut memakan biaya puluhan milyard.

Banyak yang mempertanyakan dari mana sumber pendanaan tersebut? Semua harus di usut secara transparan agar tidak terkesan adanya unsur abused of power. Tidak sedikit yang mengatakan “Membiayai video puluhan milyard bisa kok membantu rakyatnya sendiri korban gempa tidak bisa???”

HASIL POLLING: SANDIAGA UNO LEBIH MEWAKILI MILENIAL

Berkaitan siapa yang lebih mewakili kalangan “Milenial”, kami mengadakan polling terbuka dengan bentuk pilihan sederhana yaitu: Siapa yang lebih mewakili kalangan pemilih MILENIAL?
A. SANDIAGA UNO
B. JOKOWI

Polling tersebut diadakan sepekan dengan di ikuti 9.400 voters. Dan Sandiaga Uno mendapatkan skore 92% sedangkan jokowi 8%.

Meski belum dapat dikatakan mewakili namun setidaknya polling ini memberikan gambaran bahwa paska di keluarkan video jumping tersebut tidak memberikan efek apapun terhadap pilihan milenial yang aktif didunia maya kecuali kritikan dan dianggap kampanye kebohongan.