BERBAGI

“Biasanya di militer itu ada istilah ‘ilmu komandan’. Bentuk ilmunya adalah ‘jarkoni’, singkatan dari iso ngajar tapi ora iso nglakoni. Lebih kurang artinya bisa nyuruh tapi tidak bisa mengerjakan,” ujar Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya saat harus menghadapi ‘ilmu komandan’ pada diskusi yang disiarkan DIGDAYA TV lewat kanal Facebook.

Memasuki bulan Agustus 2018, Prabowo Subianto terkenang pengalamannya saat ikut lomba lari jarak jauh dalam rangka memperingati kemerdekaan Indonesia pada kurun waktu akhir 1980an.

“Saat itu ada lomba lari yang diberi nama “Proklamaton” dalam rangka memperingati hari proklamasi. Jarak lomba lari dibagi menjadi 17 km, 8 km, dan 45 km sesuai dengan simbol 17-08-45. Berlari adalah kemampuan dasar prajurit dan saat itu kami dari Kopassus wajib ikut serta memeriahkan acara tersebut,” lanjut Prabowo.

“Kopassus wajib ikut. Artinya semua harus ikut, tidak peduli apapun pangkatnya. Selama dia adalah anggota kopassus maka harus ikut lari. Di sinilah ilmu komandan berlaku,” ungkap Prabowo.

“Saat start semuanya sama-sama mulai dan biasanya lari berombongan, dari yang pangkatnya tinggi hingga ke bawah. Namun pelan-pelan di tengah lomba ada beberapa komandan yang ‘melipir’. Ada yang pura-pura alasan buang air tapi setelah itu tidak kembali. Ada yang alasan keram dsb,’ lanjut Prabowo.

PRABOWO SUBIANTO: PAK YUNUS YOSFIAH ADALAH KOMANDAN SAYA YANG AJARKAN “PEMIMPIN JANGAN CUMA JARKONI”

“Sialnya, saat itu saya diminta Pak Yunus Yosfiah untuk lari di sebelah beliau dan permintaan itu adalah perintah kalau di militer, sehingga saya tidak bisa menolak. Beliau adalah komandan yang tidak ‘jarkoni’. Jadi kalau disuruh lari 45km, maka memang harus lari sejauh itu. Saya tidak bisa pakai ‘ilmu komandan’ saat itu,” lanjut Prabowo sambil tertawa kecil.

“Jadilah saat itu saya harus lari 45 km. Saya masih ingat rutenya dimulai dari Senayan, masuk ke Sudirman terus ke arah Thamrin, Harmoni, hingga Kota Tua. Kemudian berputar Stasiun Kota tua lalu ke Gunung Sahari, ke Jatinegara kemudian Kalibata hingga selesai lagi di Senayan.”

Prabowo Subianto belajar banyak dari para pemimpinnya terdahulu bahwa, “Pemimpin yang baik itu jangan hanya bisa memberi perintah tapi juga harus bisa memberi contoh”.

Apakah rekan pembaca sekalian sependapat?