BERBAGI

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Suhardi Alius meminta perguruan tinggi harus memberikan program khusus penguatan nasionalisme dan kebangsaan serta pembekalan tentang radikalisme dan terorisme di masa orientasi.

Menurutnya mahasiswa baru masih tergolong labil dan memiliki keingintahuan yang  tinggi dan sangat rentan disusupi radikalisme serta terorisme. Apabila tidak dibentengi para generasi penerus bangsa ini bisa saja terjerumus ke dalam paham-paham yang merusak tersebut.

“Para mahasiswa baru adalah masa depan Indonesia, orang-orang pintar, kalian jadi target. Ini karena anak-anak muda yang masih labil, rasa ingin tahu yang tinggi sehingga jadi sasaran brain washing. Kalian harus hati-hati. Persiapkan diri kalian dengan baik, karena bangsa ini ke depan kalian yang akan pimpin,” ujar Suhardi, Kamis (9/8).

Suhardi memberikan pembekalan kepada 5.800 lebih mahasiswa baru di Universitas Andalas (Unand) dan 3.000 lebih mahasiswa baru di Universitas Negeri Padang (UNP).

Mantan Kabareskrim Polri ini menjelaskan pentingnya ada program khusus dari Universitas atau Perguruan Tinggi pada masa orientasi mahasiswa. Program itu berupa penguatan jiwa nasionalisme dan kebangsaan serta pembekalan terhadap paham radikal terorisme.

“Semua perguruan tinggi harus mengalokasikan pola untuk mengundang, siapapun itu untuk memberikan pemahaman dalam pencegahan bahaya radikalisme di lingkungan kampus dan harus terstruktur seluruhnya. Apakah perguruan tinggi negeri, swasta, di awal-awal penerimaan mahasiswa baru sebaiknya diprogramkan untuk diisi dengan ceramah-ceramah terkait pencegahan radikal terorisme,” ujar alumni Akpol tahun 1985 ini.

 

Suhardi juga menyampaikan materi-materi yang harus dipahami para mahasiswa juga para tenaga pendidik dan semua civitas akademika. Ia menjelaskan pentingnya pemahaman terhadap makna kata radikal.

 

“Hati-hati menggunakan istilah radikal. Radikalisme itu juga ada yang positif. Pahlawan zaman dahulu menggunakan istilah radikal agar bebas dari penjajah, itu baik. Tapi yang saya maksud di sini adalah radikal negatif yaitu anti NKRI, anti Pancasila, intoleransi dan penyebar paham takfiri, yang suka mengkafir-kafirkan orang. Ini yang sangat berbahaya dan harus dilawan,” jelasnya.

 

Ia juga menjelaskan terkait tereduksinya nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal, sehingga sering terjadi permusuhan dan pertikaian dalam masyarakat. Itu menjadi tantangan berat dalam masyarakat. Untuk itu ia ingin mengembalikan dan memompa semangat para generasi muda untuk cinta terhadap tanah air dan kebudayaan lokal tersebut.

 

“Nilai-nilai lokal, rasa persaudaraan kita sekarang tergerus, tereduksi. Seperti kata mantan Presiden Soekarno, ‘perjuangan kita lebih berat, karena menghadapi bangsa kita sendiri’. Kalau zaman dahulu kita hadapi penjajah dengan bambu runcing, jaman sekarang? Saudara kita sendiri yang memecah belah,” tuturnya.

 

Menurutnya, masalah kebangsaan tidak bisa hanya diselesaikan dengan logika, karena hanya sebatas norma, sehingga perlu digunakan perasaan dan hati, sehingga bisa menyentuh akar masalahnya.

 

“Masalah kebangsaan, saya tidak pakai logika, saya pakai hati. Kalau berbicara dengan dengan logika tidak akan selesai, harus pakai perasaan. Ingat, Republik ini bukan hanya untuk kalian, tetapi anak cucu kalian, pertanyaannya apa yang kita wariskan? Kita harus merawat kebhinekaan ini,” tutupnya.