BERBAGI

Pulau Leti adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Timor dan berbatasan dengan negara Timor Leste. Pulau Leti adalah bagian dari wilayah kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Pulau ini terletak di timur laut negara Timor Leste dengan koordinat 8 ° 13 ’20 “LS, 127 ° 38’50” BT. Pulau Leti terletak di Kecamatan Leti, yang terdiri dari 7 Desa dan 6 Dusun dengan populasi 8.767 orang yang terdiri dari 3.861 pria dan 3.906 wanita, dengan luas 243,30 km2. Kebanyakan penduduk bekerja sebagai petani dan peternak, dan sebagian lagi adalah nelayan karena pulau Letti dikelilingi oleh lautan.

Pulau Leti ini dianggap sebagai pulau suci bagi masyarakat umat Kristiani, karena di pulau Leti ini tumbuh sebuah pohon, yang bernama Ara. Pohon itu dianggap suci, karena nama pohon tersebut telah tertera di dalam kitab Injil, yang menyatakan bahwa pohon tersebut tidak akan berbuah.  Untuk mencapai pulau Leti, para wisatawan dapat menggunakan transportasi baik laut maupun udara. Apabila mneggunakan jalur laut, para wissatawan dapat Kapal Kelimutu, yang bertolak dari kota Surabaya menuju Marauke. Jalur ini juga dilewati oleh Kapal Tatamailau, dari arah yang sedikit berbeda, karena kapal ini berangkat dari Kota Surabaya menuju Ambon. Dari kota tujuan terakhit, para wisatawan dapat menggunakan pesawat regular menuju Pulau Leti, dengan waktu tempuh selama 5 jam, itu pun terkadang hanya sampai Pulau Kaesar.

Salah satu kawasan wisata di Pulau Leti adalah Pada Lamun. Obyek wisata ini adalah tempat hidup masyarakat Lamun. Di wilayah ini, hidup bebagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Fasilitas di pulau Leti ini sangat minim. Para wisatawan tidak akan menemukan tempat-tempat penginapan seperti losmen, apalagi hotel yang dilengkapi segala fasilitas. Di Pulau Leti hanya ada sebuah penginapan kosong, yamg telah lama ditinggal oleh pemiliknya. Selain itu, fasilitas listrik pun sangat minim di daerah ini. Dalam keadaan cuaca normal saja, masyarakat hanya dapat menikmati fasilitas aliran listrik, selama kurang lebih 12 jam. Listrik tersebut hanya dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar pada pukul 6 sore hingga pukul 6 pagi. Aka ntetapi, dengan segala keterbatasan fasilitias tersebut, Pulau Leti menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Untuk kuliner, tidak banyak yang dapat diceritakan. Kuliner yang dapat dikedepankan hanyalah minuman khas, yang bernama “sagero” (Jawa : legen), yang merupakan minuman yang berasal dari air buah pohon Aren (Jawa : buah siwalan) dan bisa didapatkan pula manisan buah mangga dan madu pohon.