BERBAGI

Taufiq Ismail bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah, (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935), ialah seorang penyair dan sastrawan Indonesia. Beliau merupakan anak pasangan dari  seorang Kyai, yang bernama A. Gaffar Ismail (1911-1998) asal Banuhampu, Agam dan Sitti Nur Muhammad Nur (1914-1982) asal Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat. Dalam autobiografinya disebutkan bahwa beliau dibesarkan di Kota Pekalongan, dan pernah menggunakan nama samara, yaitu Nur Fadjar. Ayahnya merupakan seorang ulama besar Muhammaddiyah.

Berdasarkan latar belakang tersebut, saat ini Taufik Ismalik dikenal sebagai seorang penyair, yang semua karyanya bernafaskan keagamaan, khususnya agama Islam.Dalam menempuh pendidikan, pertama kali Taufik Islmai bersekolah di Sekolah Rakyta di Kota Solo, yang kemudian diteruskna di Sekolah Rakyat Muhammadiyah, Kota Ngupasan, yang terletak pada provinsi Yogyakarta, pada tahun 1948.Setelah lulus seklah rakyat, beliau meneruskan SMP di Bukit Tinggi, pada taun 1952. Beliau mnamatkan pendidikan SMAnya pada tahun 1956, dan sejak di SMA, beliau bercita-cita menjadi seoang sastrawan. Selapas SMA, Taufik Islmail pernah dikirim dikirim sebagai delegasi, dalam moment pertukaran pelajar di White Fish Bay High School, Milwakee, Wisconsin, di Negara Amerika Serikat tahun 1957. Setelah kembali ke aindonesia, beliau melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia, Bogor tahun 1957-1963 hingga mendapat gelar sarjana dokter hewan. Oleh karena tercatat sebagai salah satu mahasiswa cerdas, maka Taufik Ismail pernah tercatat, sebagai assisten dosen di falkultasnya, tetapi kemudian dipecat, karena tidak mengikuti aturan, untuk meneruskan pendidikannya ke Amerika.

Sewaktu masih menjadi mahasiwa, Taufik Ismail mendapatkan masalah, hingga akhir masa Orde Lama. Hal ini disebabkan karena beliau merupakan aktifis Pelajar Islam Indonesia PII, yang kemudin diterskan sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam, yang anti komunis. Pada tahun 1966, Taufik Ismail bersama tiga temannya, yaitu: Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arif Budiman, mendirikan majalah sastra, yang terbit tiap bulan, yang bernama Horiso. Hingga saat ini, Taufik Ismail masih bergulat dengan majalah tersebut, dengan merambah ke sekolah-sekolah, dengan mengadakan temu siswa, untuk memperkenalkan ilmu sastra pada siswa sejak dini.  Jerih payahnya dalam ilmu sastra tidak sia-sia, dengan mendapatkan beberapa penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri, antara lain pada 1970, beliau menerima penghargaan seni dari pemerintah Indonesia.